Vaginitis : Gejala, Penyebab, Faktor Risiko, Cara Mengobati dan Mencegah Penyakit Vaginitis

Posted on

Penyakit Vaginitis – Vaginitis atau radang vagina adalah peradangan pada vagina yang dapat menghasilkan keputihan, gatal, dan nyeri. Vaginitis adalah peradangan pada vagina yang ditandai dengan rasa gatal di vagina dan keputihan. Keputihan yang dialami penderita vaginitis ini berbau tidak sedap.

Baca Juga : Servisitis

Vagina terus menerus memproduksi cairan secara alami. Jumlah dan tekstur cairan vagina bisa berubah-ubah sepanjang siklus menstruasi. Untuk itu, normal jika seorang wanita mengalami keputihan, namun keputihan yang normal seharusnya tidak berbau.

Vaginitis dapat disebabkan oleh penyakit menular seksual. Kondisi ini perlu segera ditangani, terutama pada ibu hamil, karena berisiko menyebabkan bayi terlahir prematur atau lahir dengan berat badan yang rendah.

Tanda dan Gejala Vaginitis

Gejala vaginitis, diantaranya yaitu:

  • Keputihan berwarna putih atau kuning kehijauan yang berbau tidak sedap
  • Gatal di area vagina atau di sekitarnya, misalnya pada vulva atau labia mayora.
  • Kemerahan di sekitar vagina.
  • Flek atau perdarahan dari vagina.
  • Nyeri saat buang air kecil dan berhubungan seks.

Baca Juga : Cara Mengatasi Keputihan

Segera periksakan diri ke dokter jika muncul gejala tersebut terutama jika:

  • Gejala yang dialami terasa mengganggu.
  • Gejala disertai demam, menggigil, dan nyeri panggul.
  • Bergonta-ganti pasangan seksual.

Penyebab Vaginitis

Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan vaginitis. Namun pada sebagian besar kasus, vaginitis disebabkan oleh infeksi bakteri. Adanya bakteri di vagina sebenarnya adalah hal yang normal, selama jumlahnya seimbang. Vaginitis terjadi ketika ada ketidakseimbangan antara jumlah bakteri “baik” dan bakteri “jahat” di vagina. Selain karena infeksi bakteri, penyebab vaginitis lainnya diantaranya yaitu

  • Infeksi jamur, akibat perkembangan jamur yang berlebihan di vagina.
    Iritasi atau reaksi alergi pada vagina, misalnya akibat penggunaan pembersih kewanitaan.
  • Penyakit menular seksual, seperti trikomoniasis, klamidia, dan herpes genital.
  • Penipisan dinding vagina akibat penurunan kadar estrogen, misalnya setelah menopause atau setelah operasi pengangkatan rahim (histerektomi).

Baca Juga : Sifilis

Faktor Risiko Vaginitis

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seorang wanita menderita vaginitis, diantaranya yaitu:

  • Bergonta-ganti pasangan seksual.
  • Menderita diabetes yang tidak terkontrol.
  • Melakukan vaginal douching atau membersihkan bagian dalam vagina.
  • Sering mengenakan celana yang lembab atau ketat.
  • Menggunakan KB spiral atau spermisida.
  • Menggunakan produk pembersih kewanitaan.
  • Efek samping obat-obatan, seperti antibiotik atau kortikosteroid.
  • Perubahan hormon akibat kehamilan atau konsumsi pil KB.

Cara Mendiagnosis Vaginitis

Untuk memastikan vaginitis, dokter akan menanyakan gejala yang dialami pasien dan apakah pasien pernah menderita keluhan yang sama sebelumnya. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan seperti:

Baca Juga : Dispareunia

  • Pemeriksaan kadar asam dan basa vagina, atau disebut juga pH vagina.
  • Pemeriksaan bagian dalam vagina, untuk melihat tanda peradangan.
  • Pemeriksaan sampel cairan vagina di laboratorium, untuk mengetahui penyebab vaginitis.
  • Pemeriksaan sampel jaringan.

Pengobatan Vaginitis

Pengobatan vaginitis dilakukan tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Secara umum, cara mengatasi vaginitis, diantaranya yaitu:

Pemberian obat antibiotik. Antibiotik yang paling sering digunakan pada vaginitis yang disebabkan oleh bakteri adametronidazole dan clindamycin adalah .

Pemberian obat antijamur. Vaginitis akibat infeksi jamur bisa diatasi dengan obat antijamur seperti miconazole, clotrimazole, atau fluconazole.

Terapi pengganti hormon. Terapi pengganti hormon bertujuan untuk mengatasi vaginitis yang dipicu oleh penurunan hormon estrogen.

Baca Juga : Dismenore

Sedangkan untuk mengatasi vaginitis yang disebabkan karena iritasi atau alergi, dokter akan menganjurkan pasien untuk menghindari pemicunya, misalnya sabun pembersih vagina atau kondom berbahan dasar lateks. Selain itu, dokter juga bisa memberikan obat-obatan untuk meredakan peradangan dan gatal.

Pencegahan Vaginitis

Cara mencegah vaginitis yang bisa dilakukan, diantaranya yaitu:

  • Membersihkan vagina dengan air tanpa menggunakan sabun dan hindari membasuh bagian dalam vagina.
  • Selalu bersihkan vagina dari arah depan ke belakang setiap kali selesai buang air, dan pastikan menyeka vagina hingga benar-benar kering.
  • Hindari penggunaan benda yang bisa menyebabkan iritasi atau alergi pada vagina, seperti pembalut yang mengandung pewangi atau sabun pembersih vagina.
  • Lakukan hubungan seks yang aman dengan menggunakan kondom dan tidak bergonta-ganti pasangan.
  • Gunakan air hangat jika ingin berendam, jangan air yang terlalu panas.
  • Pilih celana dalam yang tidak ketat dan berbahan katun.
  • Kontrol kadar gula darah jika menderita diabetes.

Baca Juga : Disfungsi Ereksi (Impotensi)

Demikian pembahasan tentang penyakit vaginitis mulai dari gejala, penyebab, faktor risiko, diagnosa, pengobatan dan pencegahan penyakit vaginitis. Semoga bermanfaat dan jangan lupa ikuti postingan lainnya.