Sistiserkosis : Gejala, Penyebab, Faktor Risiko, Pengobatan dan Pencegahan Penyakit Sistiserkosis

Posted on

Penyakit Sistiserkosis – Sistiserkosis merupakan infeksi cacing pita yang memengaruhi otak, otot, dan jaringan lain. Sistiserkosis ini menyebar melalui kontak dengan cacing pita yang terinfeksi kotoran manusia. Makanan yang terkontaminasi, air, dan tangan kotor adalah sumbernya.

Baca Juga : Schistosomiasis

Sistiserkosis adalah infeksi jaringan tubuh yang disebabkan oleh larva cacing pita Taenia solium. Contoh jaringan tubuh yang bisa terinfeksi oleh cacing ini adalah jaringan otot dan otak. Sekitar 80% penderita sistiserkosis tidak mengalami gejala apapun saat terjadinya infeksi sehingga banyak kasus sistiserkosis tidak terdiagnosis dengan tepat atau terdiagnosis secara tidak sengaja pada waktu dilakukan pencitraan organ tubuh.

Sistiserkosis dapat menyebabkan benjolan di bawah kulit. Ketika menyebar ke otak atau sumsum tulang belakang, dapat menimbulkan sakit kepala dan kejang. Cacing pita dapat keluar sendiri dari tubuh. Obat diperlukan dalam beberapa kasus. Akses ke sanitasi yang bagus adalah kunci untuk mencegahnya.

Puncak keparahan infeksi sistiserkosis bisa terjadi sekitar 3-5 tahun setelah terjadinya infeksi awal sistiserkosis. Namun pada beberapa kasus, puncak infeksi sistiserkosis bisa terjadi setelah 30 tahun pasca infeksi awal sistiserkosis. Kista yang terbentuk akibat sistiserkosis bisa mengalami degenerasi kemudian mengalami kalsifikasi dan inaktif. Pada saat kista sistiserkosis mengalami kalsifikasi, gejala bisa hilang atau malah menjadi fokus epilepsi. Tingkat keparahan gejala sistiserkosis bergantung pada lokasi infeksi, tahapan kista, serta jumlah kista sistiserkosis.

Baca Juga : Taeniasis

Tanda dan Gejala Sistiserkosis

Gejala yang ditimbulkan akibat sistiserkosis tergantung pada lokasi, besar, jumlah, dan tahapan dari penyakit. Sistiserkosis yang terjadi pada otot biasanya tidak menimbulkan gejala atau bisa menimbulkan benjolan di bawah kulit yang terkadang terasa nyeri. Jika terjadi pada mata, sistiserkosis bisa menimbulkan keluhan berupa pandangan ganda dan nyeri.

Cacing yang menginfeksi susunan sistem saraf pusat manusia yang biasa disebut neurosistiserkosis ini bisa menimbulkan gejala dikarenakan tiga hal, yaitu penekanan langsung pada otak, reaksi peradangan, dan penyumbatan aliran cairan otak. Karena ketiga hal tersebut, umumnya sistiserkosis memberikan gejala seperti:

  • Kejang yang terjadi pada hampir delapan puluh persen pasien dengan kelainan saraf setempat (focal neurologic sign) seperti lumpuh, tremor, atau mati rasa.
  • Tanda peningkatan tekanan intrakranial (tekanan dalam otak) seperti penurunan kesadaran, sakit kepala, penurunan fungsi penglihatan, dan muntah.
  • Penurunan fungsi luhur (kognitif) sampai demensia
  • Gejala stroke.
  • Kelainan pada sumsum tulang belakang seperti nyeri punggung, nyeri panggul, disfungsi seksual, sulit menahan buang air besar maupun kecil, kesulitan berjalan dan masalah keseimbangan.
  • Gejala hidrosefalus.
  • Pembengkakan otak.
  • Di daerah endemik, yaitu daerah dengan kejadian sistiserkosis yang banyak, sistiserkosis sering tidak menimbulkan gejala.

Baca Juga : Kaki Gajah (Filariasis)

Penyebab dan Faktor Risiko Sistiserkosis

Sistiserkosis disebabkan oleh cacing pita jenis Taenia solium yang bisa hidup pada babi dalam bentuk kista. Manusia yang makan daging babi yang terinfeksi akan menelan kista cacing tersebut, biasanya hal ini terjadi karena daging babi dimasak kurang matang. Manusia yang menelan kista dari daging babi akan mengidap penyakit taeniasis, bukan sistiserkosis.

Sistiserkosis terjadi jika kista yang sudah menjadi telur keluar melalui feses manusia yang mengidap taeniasis mencemarkan air, makanan, atau benda lain dan masuk ke tubuh manusia lain atau tubuhnya sendiri (autoinfeksi) melalui mulut.

Telur cacing yang ditelan manusia akan berkembang menjadi larva dan membentuk kista yang disebut sistiserkus. Sistiserkus dalam tubuh manusia terbagi dalam tiga tahapan yaitu hidup, degenerasi, dan kalsifikasi. Kebanyakan sistiserkus yang hidup tidak mengakibatkan reaksi peradangan, namun sistiserkus yang mengalami degenerasi bisa melepaskan antigen, yaitu suatu zat yang dihasilkan sehingga menimbulkan reaksi peradangan dan antibodi pada tubuh. Setelah mengalami degenerasi, sistiserkus bisa mati sehingga hancur dan diserap sendiri oleh tubuh, tapi bisa juga mengalami kalsifikasi dan menjadi fokus epilepsi.

Baca Juga : Disentri

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena sistiserkosis, diantaranya:

  • Hidup bersama dengan orang yang mengidap taeniasis yang dapat mencemarkan air, makanan, dan barang disekitarnya sehingga meningkatkan risiko orang lain atau bahkan dirinya sendiri untuk menelan telur cacing tersebut.
  • Hidup di area endemik terjadinya sistiserkosis pada babi, biasanya ini terjadi di daerah pedesaan negara berkembang dengan sanitasi yang buruk di mana babi berkeliaran dengan bebas dan memakan feses manusia.
  • Orang dengan tingkat kebersihan yang buruk.

Cara Mendiagnosis Sistiserkosis

Untuk mendiagnosis sistiserkosis atau tidak, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan diantaranya yaitu:

Anamnesa dan pemeriksaan fisik. Dokter akan menanyakan gejala yang muncul, riwayat perjalanan ke daerah tertentu, serta makanan yang dimakan. Selain menanyakan riwayat penyakit dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menegaskan gejala yang dialami.

Pemindaian (CT scan atau MRI). CT scan atau MRI yang dilakukan pada otak dapat melihat scolex cacing (bagian dari tubuh cacing) pada kista, atau dapat terlihat sebagai kista tanpa scolex, jejas yang nyata, atau kalsifikasi.

Biopsi jaringan. Biopsi dilakukan dengan mengambil sebagian sampel dari jaringan yang dicurigai dan diperiksa dibawah mikroskop. Hasilnya akan tampak bagian dari cacing tersebut.

Baca Juga : Diare

Funduskopi. Pemeriksaan funduskopi dilakukan dengan alat khusus untuk melihat langsung adanya cacing pada retina mata.

Tes darah. Tes darah digunakan untuk mendeteksi antibodi terhadap sistiserkosis dalam badan. Tes darah rutin yang tidak spesifik juga bisa dilakukan, seperti hitung darah lengkap atau pemeriksaan fungsi hati.

CT scan, MRI, atau pemeriksaan antibodi seringkali dikombinasikan untuk memastikan apakah seseorang mengalami sistiserkosis atau tidak. Baik pemindaian maupun tes antibodi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, terutama jika didapat kondisi seperti:

  • Menderita infeksi sistiserkosis dengan jumlah kista sistiserkus yang sedikit. Pada kondisi ini, seringkali tes antibodi memberikan hasil negatif. Akan tetapi, kista tetap dapat terdeteksi menggunakan CT scan atau MRI.
  • Menderita sistiserkosis bukan di otak. Pada kondisi ini, seringkali pemindaian memberikan hasil negatif, sedangkan tes antibodi dapat memberikan hasil positif.
  • CT scan lebih unggul dibandingkan dengan MRI untuk melihat kalsifikasi berukuran kecil.
  • MRI lebih sensitif untuk melihat pembengkakan otak dan scolex.

Pengobatan Sistiserkosis

Umummya, pengobatan sistiserkosis umumnya tergantung pada gejala yang muncul serta jumlah, ukuran, dan tahapan penyakit. Pasien dengan sistiserkosis pada jaringan otot tidak membutuhkan pengobatan khusus. Jika timbul gejala, bisa diangkat dengan prosedur bedah dan pengobatan antiradang. Jika sistiserkosis muncul di mata dan menimbulkan gejala dapat diberikan albendazole dan kortikosteroid. Beberapa pasien memerlukan prosedur bedah untuk mengangkat kista.

Baca Juga : Cacingan

Pada neurosistiserkosis, tujuan pengobatan adalah untuk mengendalikan kejang serta mengatasi peningkatan tekanan di dalam rongga kepala (tekanan intrakranial), pembengkakan otak, dan hidrosefalus yang muncul terkait dengan sistiserkosis.

Berikut ini beberapa jenis pengobatan yang bisa diberikan pada pasien sistiserkosis, diantaranya yaitu:

  • Antihelmintik. Antihelmintik atau obat cacing berfungsi untuk membunuh sistiserkus yang hidup. Antihelmintik tidak bisa mengatasi sistiserkus yang sudah mengalami kalsifikasi. Perlu diingat, pemberian antihelmintik akan memicu reaksi peradangan, sehingga gejala sistiserkosis yang muncul dapat menjadi akut dan bertambah parah. Contoh obat antihelmintik yang dapat digunakan adalah albendazole dan praziquantel.
  • Kortikosteroid. Pemberian obat kortikosteroid, seperti dexamethasone, berfungsi untuk mengurangi reaksi peradangan pada saat menjalani pengobatan dengan antihelmintik. Kortikosteroid juga digunakan jika ada pembengkakan otak.
  • Antikonvulsan. Antikonvulsan atau anti kejang bisa diberikan untuk mengatasi kejang pada neurosistiserkosis. Walaupun terapi pemberian antihelmintik sudah berhasil membasmi sistiserkus, pengobatan antikonvulsan terkadang masih diperlukan karena kelainan pada otak tidak bisa kembali normal sehingga kejang masih bisa muncul. Pemberian antikonvulsan dianjurkan untuk penderita neurosistiserkosis dengan kejang berulang. Contoh obat antikonvulsan yang dapat diberikan adalah phenytoin, carbamazepine, dan phenobarbital.

Baca Juga : Kolera (Vibrio cholerae)

  • Prosedur pembedahan. Pada kondisis tertentu prosedur pembedahan untuk mengangkat kista diperlukan, seperti saat sistiserkosis dengan komplikasi hidrosefalus, kista lebih dari sepuluh cm, dan letak kista pada area tertentu di otak yang dianggap membahayakan bila tidak diangkat. Prosedur pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat kista dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara konvensional dengan kraniotomi (membuka tulang tengkorak) atau dengan neuroendoskopi. Teknik neuroendoskopi dianggap lebih aman karena dilakukan melalui mulut, hidung, atau lubang kecil yang dibuat sebesar koin pada tulang tengkorak untuk mengambil kista dengan alat khusus, tanpa membuka tulang tengkorak.

Pencegahan Sistiserkosis

Cara mencegah infeksi sistiserkosis yang bisa dilakukan diantaranya yaitu:

  • Mencuci tangan menggunakan sabun dan air, terutama setelah menggunakan toilet, mengganti popok dan sebelum makan atau memasak makanan.
  • Mencuci dan mengupas sayuran dan buah-buahan sebelum dimakan.
  • Menjaga kebersihan makanan dan minuman pada saat bepergian ke daerah atau negara yang rentan terjadi sistiserkosis.

Komplikasi Sistiserkosis

Berikut beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat sistiserkosis diantaranya yaitu:

  • Pembengkakan otak.
  • Hidrosefalus.
  • Peningkatan tekanan intracranial.
  • Epilepsi.
  • Stroke.
  • Kecacatan, gangguan komunikasi, dan gangguan fungsi luhur.
  • Herniasi otak (kondisi dimana jaringan otak, cairan otak, dan pembuluh darah bergeser dan keluar dari tempatnya) serta kematian.

Baca Juga : Melena

Demikian pembahasan tentang penyakit sistiserkosis mulai dari gejala, penyebab, faktor risiko, diagnosis, cara mengobati, mencegah dan komplikasi sistiserkosis. Semoga beemanfaat dan jangan lupa ikuti postingan lainnya.