Servisitis : Gejala, Penyebab, Faktor Risiko, Pengobatan dan Pencegahan Penyakit Servisitis

Posted on

Penyakit Servisitis – Servisitis merupakan suatu peradangan yang terjadi pada daerah serviks atau leher rahim. Servisitis adalah kondisi yang juga dikenal sebagai infeksi serviks, pembengkakan dan keadaan peradangan di saluran serviks yang disebabkan oleh infeksi, jamur atau parasit.

Baca Juga : Kanker Serviks (Kanker Leher Rahim)

Serviks adalah bagian paling bawah dari rahim yang terhubung dengan vagina. Peradangan servisitis bisa ditunjukkan dengan perdarahan dari vagina di luar masa menstruasi, atau nyeri saat berhubungan seksual, serta keluarnya cairan abnormal dari vagina.

Terdapat dua jenis servisitis yaitu servisitis akut dan servisitis kronis. Apabila servisitis tidak diobati dengan tepat waktu, maka hal tersebut akan menyebabkan peradangan serviks yang akan berujung pada kondisi kronis.

Kondisi ini tidak sulit untuk diobati, tapi jika tidak diobati, maka penyakit servisitis akan mengurangi kekebalan rahim dan vagina, meningkatkan risiko terkena penyakit menular seksual seperti sifilis, gonore dan klamidia, bahkan HIV.

Servisitis ini biasa terhadi pada wanita di segala usia, tapi penyakit ini lenih sering terjadi pada wanita pada usia dibawah 25 tahun . Cara mencegah servisitis dapat dilakukan dengan mengurangi faktor risikonya.

Tanda dan Gejala Servisitis

Sebagian besar penderita tidak merasakan gejala dan biasanya baru menyadari setela melakukan pemeriksaan dokter untuk alasan lain. Selain itu, sebagai penderita yang merasakan gejala servisitis, gejala yang muncul diantaranya:

Baca Juga : Dismenore (Nyeri Haid)

  • Keluar cairan dari vagina yang tidak biasa dan dalam jumlah banyak. Cairan ini bisa berwarna kuning pucat keabu-abuan yang disertai bau tidak sedap (keputihan).
  • Buang air kecil yang sering dan menyakitkan.
  • Dispareunia.
  • Perdarahan dari vagina setelah berhubungan seksual.
  • Vagina terasa nyeri.
  • Panggul terasa tertekan.
  • Sakit punggung.
  • Rasa nyeri pada bagian panggul atau perut.
  • Demam.
  • Pendarahan ringan dengan kotoran vagina berwarna merah muda atau coklat.
  • Nyeri di daerah vagina secara teratur.
  • Nyeri selama hubungan seksual.

Peradangan serviks bisa menjadi parah apabila berkembang lebih lanjut, yang ditandai dengan terbentuknya luka terbuka atau keluarnya cairan dari vagina berupa nanah.

Jika servisitis menyebabkan gonore atau klamidia dan menyebar ke tuba falopi, pasien bisa merasakan sakit di bagian panggul.

Baca Juga : Miom

Penyebab dan Faktor Risiko Servisitis

Servisitis disebabkan karena adanya infeksi bakteri atau virus yang terjadi saat berhubungan seksual. Contoh infeksi yang menyebar dari hubungan seksual adalah gonore, chlamydia, trikomoniasis, dan herpes genital. Selain infeksi, ada juga beberapa kondisi yang dapat menyebabkan servisitis diantaranya:

  • Reaksi alergi, terhadap spermisida (zat yang dapat mematikan sperma) atau bahan lateks dari alat-alat kontrasepsi, serta produk-produk kewanitaan.
  • Pertumbuhan flora normal (bakteri baik) yang tidak terkendali di dalam vagina.
  • Iritasi atau cedera akibat pemakaian tampon/pembalut.
  • Ketidakseimbangan hormon, di mana kadar estrogen jauh lebih rendah dibanding kadar progesteron, sehingga mengganggu kemampuan tubuh dalam mempertahankan kesehatan serviks
  • Kanker atau efek samping perawatan kanker.

Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena servisitis diantaranya yaitu:

  • Melakukan hubungan seksual yang tidak aman, termasuk sering berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seks tanpa pengaman.
  • Aktif berhubungan seksual sejak usia muda.
  • Memiliki riwayat servisitis atau penyakit menular seksual.

Baca Juga : Adenomiosis

Cara Mendiagnosis Servisitis

Untuk dapat mendiagnosis servisitis, dokter akan menanyakan gejala dan juga pemeriksaan fisik pada penderita. Pemeriksaan yang dilakukan berupa pengamatan bagian panggul untuk melihat area peradangan dalam bentuk pembengkakan atau bagian yang lunak, serta pengamatan kondisi vagina dan serviks dengan alat spekulum.

Untuk memastikan diagnosis, biasanya dokter masih harus melakukan pemeriksaan penunjang. Salah satunya yaitu dengan melakukan pap smear, yaitu pemeriksaan di mana dokter akan mengambil sampel cairan dari serviks dan vagina, untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium. Jenis pemeriksaan lainnya yang bisa dilakukan yaitu dengan menggunakan alat selang berkamera (endoskop) untuk melihat adanya kondisi abnormal di dalam vagina dan serviks secara lebih jelas.

Pengobatan Servisitis

Penanganan servisitis dilakukan berdasarkan penyebab dan juga tingkat keparahan penyakit ini. Untuk servisitis noninfeksi seperti iritasi terhadap pemakaian bahan, alat atau produk tertentu, maka penderita perlu menghentikan pemakaiannya hingga sembuh.

Sedangkan untuk servisitis akibat infeksi menular seksual, pemberianobat diperlukan baik bagi penderita maupun pasanhannya. Tujuannya untuk menghilankan infeksi dan mencegahnya menular. Contoh obat-obatan yang dapat diberikan berdasarkan organisme penyebab infeksi diantaranya:

Baca Juga : Kanker Ovarium

  • Antibiotik. Ini digunakan untuk mengatasi servisitis akibat infeksi bakteri, seperti gonore, chlamydia, dan vaginosis bakterialis.
  • Antiviral. Ini digunakan untuk mengatasi servisitis akibat infeksi virus, seperti herpes genital atau kutil kelamin.
  • Antijamur. Ini digunakan untuk mengatasi servisitis akibat infeksi jamur.

Jika obat-obatan tidak efektif mengatasi servisitis karena kondisi sudah cukup parah, maka dokter akan menyarankan pasien menjalani metode pengobatan seperti berikut:

  • Cryosurgery. Dokter akan menggunakan media khusus yang bisa membekukan jaringan yang terkena servisitis. Setelah dibekukan dengan suhu yang sangat dingin, jaringan akan hancur dengan sendirinya.
  • Bedah listrik. Teknik bedah ini dilakukan dengan menggunakan aliran listrik, tujuannya untuk membakar atau menghancurkan jaringan yang terkena servisitis.
  • Terapi laser. Dokter akan menggunakan alat khusus yang bisa mengeluarkan gelombang cahaya kuat, tujuan pemeriksaan ini yaitu untuk memotong, membakar, dan menghancurkan jaringan yang terkena servisitis.

Pencegahan Servisitis

Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan agar tidak terkena penyakit servisitas diantaranya:

  • Melakukan hubungan seksual yang aman, seperti tidak berganti pasangan.
  • Menghindari produk kewanitaan yang mengandung parfum, karena bisa menyebabkan iritasi pada vagina maupun serviks.

Baca Juga : Kanker Rahim

Demikian pembahasan tentang penyakit servisitis mulai dari gejala, penyebab, faktor risiko, diagnosa, cara mengobati dan mencegah servisitis secara lengkap. Semoga bermanfaat dan jangan lupa ikuti postingan lainnya.