Psikosis : Penyebab, Gejala, Cara Mengobati dan Mencegah Penyakit Psikosis

Posted on

Penyakit Psikosis – Psikosis merupakan suatu gangguan mental yang ditandai dengan diskoneksi dari kenyataan. Psikosis adalah kondisi dimana penderitanya mengalami kesulitan membedakan kenyataan dan imajinasi.

Psikosis juga bisa diartikan sebagai kondisi kejiwaan yang bisa ditandai dengan adanya gangguan hubungan dengan realita.

Baca Juga : Gangguan Bipolar

Psikosis merupakan gejala serius yang muncul akibat gangguan mental yang serius dan meliputi adanya gangguan halusinasi atau delusi.

Psikosis dapat terjadi sebagai akibat dari penyakit jiwa seperti skizofrenia. Dalam kasus lain, kondisi ini dapat disebabkan oleh kondisi kesehatan, obat-obatan, atau penggunaan narkoba.

Gejala yang mungkin terjadi meliputi delusi, halusinasi, bicara tak jelas, dan agitasi. Orang dengan kondisi ini biasanya tidak menyadari perilakunya. Penanganan bisa berupa obat-obatan dan terapi bicara.

Penyebab Psikosis

Penyebab pasti psikosis belum diketahui. Orang dengan pola tidur yang buruk, mengonsumsi alkohol atau menggunakan ganja dan mengalami trauma akibat kehilangan seseorang yang dicintai, seperti orang tua atau pasangan bisa menjadi pemicu munculnya kondisi ini.

Psikosis bisa dipicu oleh kondisi yang terjadi karena adanya gangguan pada otak, seperti:

Pada kasus lain, psikosis dapat muncul sebagai gejala suatu penyakit seperti:

  • Skizofrenia
  • Depresi berat
  • Gangguan bipolar

Baca Juga : Kleptomania

Tanda dan Gejala Psikosis

Gejala yang muncul pada setiap orang bisa berbeda-beda, tergantung penyebab, usia, dan keparahan kondisi. Seseorang yang mengalami psikosis akan memiliki gejala utama berupa delusi dan halusinasi.

  • Delusi atau waham adalah kondisi di mana seseorang memiliki keyakinan yang kuat dan tidak dapat dipatahkan terhadap sesuatu yang tidak nyata, misalnya mempercayai bahwa dirinya menderita penyakit yang mematikan, meskipun pada kenyataannya kondisi orang tersebut sehat.
  • Halusinasi adalah kondisi di mana seseorang mendengar, melihat, merasakan, atau mencium sesuatu yang tidak ada dan tidak dialami orang lain, misalnya mendengar suara orang berbincang ketika dirinya tengah sendirian di suatu tempat.

Pada anak-anak, aktivitas yang menggambarkan perilaku halusinasi diantaranya memiliki teman imajinasi, bukan berarti gejala psikosis. itu hanya suatu bentuk imajinasi anak-anak DAN merupakan tahapan yang normal dan tergolong wajar.

Baca Juga : Bulimia

Selain delusi dan halusinasi, beberapa gejala lain psikosis, diantaranya yaitu:

  • Sulit berkonsentrasi.
  • Gangguan tidur.
  • Gelisah.
  • Merasa curiga.
  • Gangguan berinteraksi dengan orang lain.
  • Berbicara melantur dan tidak sesuai topik.
  • Merasakan dorongan untuk bunuh diri.
  • Suasana hati menurun (depresi).

Diagnosis Psikosis

Untuk dapat mendiagnosis psikosis, dokter akan melakukan pengamatan terhadap perilaku pasien dan menanyakan gejala yang dirasakan. Pengamatan yang dilakukan meliputi pengamatan orientasi, fisik, ingatan, bahasa, dan cara pasien memecahkan sebuah permasalahan. Pengamatan tersebut juga berfungsi untuk mencari tahu apa penyebab psikosis.

Pemeriksaan pencitraan diantaranya seperti foto Rontgen atau CT scan, juga bisa dilakukan dalam mendiagnosis kondisi pasien. Biasanya hal ini dilakukan jika ada kemungkinan psikosis disebabkan penyakit yang diderita pasien, seperti tumor otak.

Baca Juga : Lumpuh Otak (Cerebral Palsy)

Pengobatan Psikosis

Psikosis harus segera ditangani, apabila psikosis tidak segera ditangani, maka gejala yang ada akan semakin memburuk dan berdampak pada kemampuan pasien dalam menjalin hubungan sosial, baik dalam lingkungan ataupun pekerjaan.

Pengobatan psikosis juga berbeda-beda, tergantung penyebab yang menyertainya. Dalam menangani pasien psikosis, dokter jiwa atau psikiater akan menganjurkan obat-obatan atau terapi tertentu yang sesuai dengan kondisi.

Pemberian obat-obatan. Dokter bisa memberikan obat golongan antipsikotik untuk mengontrol gejala yang ada. Pemberian obat-obatan harus dengan anjuran dokter karena dosis pada tiap orang berbeda-beda juga disesuaikan dengan usia dan kondisi pasien.

Psikoterapi. Ada beberapa psikoterapi yang bisa dilakukan dalam menangani psikosis. Terapi in juga bisa menggunakan obat-obatan antipsikotik untuk memaksimalkan pengobatan yang dilakukan. Terapi ini meliputi:

  • Cognitive behavioural therapy (CBT) atau terapi perilaku kognitif adalah bentuk psikoterapi yang dapat dilakukan dalam menangani psikosis. Dokter akan mengarahkan pasien untuk mengerti dan memahami kondisi yang dideritanya. Tujuannya agar pasien mampu mengendalikan gejala yang ada.
  • Dorongan keluarga atau orang dekat bisa menjadi terapi yang efektif. Penderita psikosis bisa mengeluhkan kondisinya ke orang yang dipercaya. Hal ini akan menumbuhkan semangat pada pasien untuk mampu mengendalikan gejala.
  • Komunitas penyakit. Penderita psikosis juga dapat mencari pemahaman tentang kondisinya, baik cara mencegah atau meredakan gejala, dengan bergabung dalam komunitas yang memiliki kesamaan latar belakang.

Baca Juga : Meningitis (Radang Selaput Otak)

Dokter juga bisa menyuntikan obat penenang jika gejala yang muncul tergolong berisiko dan bisa melukai pasien sendiri atau orang lain.

Pencegahan Psikosis

Belum ada cara pasti yang dapat mencegah psikosis. Akan tetapi, risiko terjadinya gangguan ini bisa dikurangi dengan upaya pencegahan terhadap faktor yang dapat memicu psikosis, seperti tidak mengonsumsi alkohol, atau dengan melakukan latihan relaksasi untuk menghindari stres dan depresi.

Demikian pembahasan tentang penyakit psikosis, mulai dari penyebab, gejala, diagnosa, cara mengobati dan mencegah psikosis, semoga bermanfaat