Difteri : Penyebab, Penularan, Gejala, Cara Mengobati dan Mencegah Penyakit Difteri

Posted on

Penyakit Difteri – Difteri adalah infeksi serius pada hidung dan tenggorokan yang mudah dicegah dengan vaksin. Difteri adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae.

Difteri merupakan penyakit yang mengerikan di mana masa lalu telah menyebabkan ribuan kematian, dan masih mewabah di daerah-daerah dunia yang belum berkembang.

Difteri adalah infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi kulit. Penyakit difteri ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

Penyebab dan Penularan Difteri

Penyakit difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penyebaran bakteri ini bisa mudah terjadi, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri.

Cara penularan atau penyebaran difteri yang perlu diwaspadai, diantaranya yaitu:

  • Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk.
  • Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, seperti mainan atau handuk.
  • Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita.

Bakteri difteri akan menghasilkan racun yang akan membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan, sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel-sel yang mati tersebut akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan. Selain itu, racun yang dihasilkan juga berpotensi menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal, juga sistem saraf.

Terkadang, difteri tidak menunjukkan gejala apapun sehingga penderita tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi difteri. Jika tidak menjalani pengobatan dengan tepat, mereka berpotensi menularkan penyakit kepada orang di sekitarnya, terutama mereka yang belum mendapatkan imunisasi.

Tanda dan Gejala Difteri

Umumnya, difteri memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh hingga gejala muncul yaitu sekitar 2-5 hari. Berikut ini gejala-gejala difteri, diantaranya yaitu:

  • Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
  • Demam dan menggigil.
  • Lemas dan lelah.
  • Sakit tenggorokan dan suara serak.
  • Sulit bernapas atau napas yang cepat.
  • Pembengkakan kelenjar limfe pada leher.
  • Pilek yang awalnya cair, tapi lama-kelamaan kental dan kadang bercampur darah.
  • Terkadang juga difteri bisa menyerang kulit dan menyebabkan luka seperti borok (ulkus).

Jika gejala-gejala tersebut muncul, maka segera periksakan diri ke dokter. Penyakit difteri ini harus segera diobati untuk mencegah komplikasi.’

Cara Diagnosis dan Pengobatan Difteri

Untuk dapat mendiagnosis difteri, dokter akan menanyakan gejala pada pasien dan juga memeriksa lendir di tenggorokan, hidung, atau ulkus di kulit untuk diperiksa di laboratorium.

Jika pasien diduga kuat terinfeksi difteri bahkan sebelum ada hasil laboratorium maka dokter akan segera memulai pengobatan. Dokter akan menganjurkan pasien menjalani perawatan dalam ruang isolasi rumah sakit. Kemudian, langkah pengobatan akan dilakukan dengan 2 jenis obat yakni antibiotik dan antitoksin. Antibiotik akan diberikan untuk membunuh bakteri dan menyembuhkan infeksi dengan dosis yang diberikan tergantung pada keparahan gejala dan lama pasien menderita difteri.

Sebagian besar penderita bisa keluar ruang isolasi setelah mengkonsumsi antibiotik selama 2 hari. Namun sangat penting bagi penderita untuk tetap mengkonsumsi antibiotik sesuai anjuran dokter selama 2 minggu. Penderita kemudian akan menjalani pemeriksaan laboratorium untuk melihat ada tidaknya bakteri difteri dalam aliran darah. Apabila bakteri difteri masih ditemukan dalam tubuh pasien, dokter akan melanjutkan penggunaan antibiotik selama 10 hari.

Sedangkan, pemberian antitoksin berfungsi untuk menetralisasi toksin atau racun difteri yang menyebar dalam tubuh. Sebelum memberikan antitoksin, dokter akan mengecek apakah pasien memiliki alergi pada obat atau tidak. Jika terjadi reaksi alergi, dokter akan memberikan antitoksin dengan dosis rendah dan meningkatkannya perlahan sembari melihat perkembangan kondisi pasien.

Bagi penderita yang mengalami kesulitan bernapas karena hambatan membran abu-abu dalam tenggorokan, dokter akan menganjurkan proses pengangkatan membran. Sedangkan penderita difteri dengan gejala ulkus pada kulit dianjurkan untuk membersihkan bisul dengan sabun dan air secara seksama.

Selain penderita, orang-orang yang berada di dekat penderita juga disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter karena penyakit ini sangat mudah menular. Dokter akan menyarankan mereka untuk menjalani tes dan memberikan antibiotik. Terkadang vaksin difteri juga kembali diberikan apabila dibutuhkan, iini dilakukan untuk meningkatkan proteksi terhadap penyakit difteri.

Pencegahan Difteri

Pencegahan difteri yang paling efektif yaitu dengan vaksin. Pencegahan difteri tergabung dalam vaksin DTP. Vaksin tersebut meliputi difteri, tetanus, dan pertusis atau batuk rejan.

Pemberian vaksin ini dilakukan 5 kali pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun. Selanjutnya bisa diberikan booster dengan vaksin sejenis (Tdap/Td) pada usia 10 tahun dan 18 tahun. Vaksin Td bisa diulangi setiap 10 tahun untuk memberikan perlindungan yang optimal.

Demikian penjelasan tentang “Difteri : Penyebab, Penularan, Gejala, Cara Mengobati dan Mencegah Penyakit Difteri“, semoga bermanfaat