Abses Otak : Penyebab, Faktor Risiko, Gejala, Cara Mendiagnosis dan Mengobati Abses Otak

Posted on

Penyebab, Faktor Risiko, Gejala, Cara Mendiagnosis dan Mengobati Abses Otak – Abses otak adalah infeksi bakteri yang mengakibatkan penimbunan nanah di dalam otak, serta pembengkakan pada organ tersebut. Biasanya kondisi ini terjadi setelah bakteri atau jamur masuk ke jaringan otak akibat cedera kepala atau infeksi pada jaringan lain. Lebih singkatnya, abses otak adalah sekumpulan nanah yang berkembang di otak akibat adanya infeksi.

Penyebab Abses Otak

Penyebab utama abses otak yaitu adanya infeksi bakteri atau jamur yang masuk ke dalam jaringan otak, dikarenakan sistem daya tahan tubuh tidak bisa melawannya. Sebenarnya tubuh sudah dilengkapi dengan sistem imun untuk menjaga organ penting. Tapi dalam kasus tertentu, kuman bisa masuk melalui pembuluh darah dan menyerang otak. Infeksi yang masuk ke dalam otak akan terkumpul di jaringan otak dan membentuk gumpalan nanah.

Beberapa penyakit tertentu yang dapat menyebabkan abses otak, diantaranya yaitu:

  • Penyakit jantung sianotik, yaitu salah satu jenis penyakit jantung bawaan yang mengakibatkan jantung tidak mampu mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh dan memicu terjadinya infeksi.
  • Pulmonary arteriovenous fistula, yaitu kelainan yang terjadi pada pembuluh darah paru, mengakibatkan bakteri masuk ke dalam darah dan mengalir menuju otak.
  • Abses gigi.
  • Infeksi. Kondisi ini meliputi infeksi paru (misalnya pneumonia), infeksi jantung (misalnya endokarditis), infeksi di rongga perut (misalnya peritonitis), infeksi panggul (misalnya cystitis), dan infeksi kulit.

Faktor Risiko Abses Otak

Abses otak adalah penyakit infeksi yang bisa membahayakan nyawa dan harus ditangani secepatnya. Siapa pun dapat mengalaminya, tapi orang-orang dengan riwayat penyakit berikut ini memiliki risiko yang lebih tinggi terkena abses otak, diantaranya:

  • HIV/AIDS, kanker, serta penyakit kronis.
  • Infeksi pada telinga bagian tengah (otitis media).
  • Sinusitis
  • Penyakit jantung bawaan (PJB), seperti tetralogy of fallot (ToF).
  • Meningitis.

Selain itu, seseorang yang mengalami cedera kepala berat atau patah tulang tengkorak, pernah melakukan transplantasi organ, sedang menggunakan obat-obatan imunosupresif, atau sedang menjalani kemoterapi juga berisiko terkena abses otak.

Tanda dan Gejala Abses Otak

Biasanya, gejala abses otak dirasakan dalam hitungan minggu setelah infeksi, atau terkadang secara langsung. Berikut ini gejala-gejala umum abses otak diantaranya yaitu:

  • Pusing hebat.
  • Mual dan muntah.
  • Demam tinggi (di atas 38 C).
  • Menggigil.
  • Perubahan perilaku, seperti merasa gelisah atau linglung.
  • Leher terasa kaku.
  • Kejang-kejang.
  • Penurunan kemampuan merasakan sensasi, menggerakkan otot, atau berbicara.
    Gangguan penglihatan, seperti penglihatan ganda, kabur, atau buram.
  • Sensitif terhadap cahaya.

Sedangkan gejala abses otak pada bayi atau anak di antaranya yaitu :

  • Muntah.
  • Menangis dengan nada tinggi.
  • Otot tubuh terlihat kaku.

Segera temui dokter apabila gejala terus dirasakan, khususnya bagi yang mengalami kejang mendadak, cara bicara mulai tidak jelas, otot melemah, atau lumpuh.

Cara Mendiagnosis Abses Otak

Pada tahap awal diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik sambil menganalisa gejala dan riwayat medis pasien. Pemeriksaan lanjutan juga akan dilakukan untuk menguatkan hasil diagnosis, di antaranya:

  • Pemeriksaan neurologi, meliputi pergerakan otot, sistem saraf, dan sensorik.
  • Tes darah, tujuannya untuk memeriksa jika terdapat infeksi tertentu.
  • Pemindaian, tujuannya untuk melihat lokasi peradangan atau pembengkakan. Pemindaian ini meliputi foto Rontgen, CT scan, EEG, atau MRI.
  • Pungsi lumbar. Pengambilan sampel cairan serebrospinal dari celah tulang belakang untuk memeriksa jika ada bakteri tertentu. Tindakan ini tidak bisa dilakukan jika penderita mengalami pembengkakan otak yang cukup parah, karena bisa membuat tekanan di otak memburuk.

Apabila hasil tes lanjutan tidak dapat mengidentifikasi penyebab dan sumber infeksi, dokter mungkin akan menyarankan untuk dilakukannya biopsi.

Pengobatan Abses Otak

Abses otak adalah kondisi darurat dan perlu ditangani dengan segera. Pengobatan biasanya dilakukan di rumah sakit dengan pemberian obat antibiotik atau obat antijamur sampai pasien memasuki tahap stabil. Terkadang, obat golongan diuretik juga dapat diresepkan. Namun, jika kondisi pasien cukup buruk, dokter dapat menyarankan tindakan operasi.

Kriteria abses otak yang ditangani dengan obat-obatan yaitu abses berukuran lebih kecil dari 2 cm; abses berada di beberapa titik; abses terletak di bagian otak paling dalam; pasien mengalami meningitis; terjadi hidrosefalus; oksoplasmosis pada penderita HIV atau AIDS.

Apabila pasien memiliki abses berukuran di atas 2cm, berisiko pecah dalam otak atau memiliki unsur gas di dalamnya, dokter biasa akan menyarankan untuk mengangkatnya melalui tindakan operasi. Ada 2 jenis tindakan yang biasa digunakan diantaranya simple aspiration dan craniotomy.

  • Simple aspiration dilakukan dengan mengebor lubang kecil (burr hole) pada tengkorak agar nanah bisa dikeluarkan. Tindakan ini biasa dilakukan dengan bantuan alat CT scan untuk memastikan titik abses tersebut. Operasi ini cenderung memerlukan waktu yang singkat, yaitu sekitar 1 jam.
  • Craniotomy yaitu tindakan yang dilakukan dokter dengan memotong sebagian kecil rambut di kulit kepala dan mengangkat sebagian kecil tulang tengkorak (flap) untuk membuka akses ke otak. Kemudian, abses akan diangkat sepenuhnya setelah nanah dibersihkan dan flap tulang akan dikembalikan ke posisi semula saat tindakan selesai. CT scan juga digunakan untuk membantu dokter merelokasikan titik abses. Operasi ini akan membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Setelah tindakan operasi ini, pasien butuh istirahat penuh selama 6-12 minggu.

Demikian artikel tentang “Abses Otak : Penyebab, Faktor Risiko, Gejala, Cara Mendiagnosis dan Mengobati Abses Otak“, semoga bermanfaat.