Distonia: Jenis, Gejala, Penyebab, Faktor Risiko, Diagnosis dan Cara Mengobati Penyakit Distonia

Posted on

Jenis, Gejala, Penyebab, Faktor Risiko, Diagnosis dan Cara Mengobati Penyakit Distonia – Distonia adalah kontraksi otot tak sadar yang menyebabkan gerakan berulang atau memutar. Distonia adalah gangguan yang menyebabkan otot bergerak sendiri tanpa sadar. Gerakan otot ini dapat terjadi pada salah satu anggota tubuh hingga seluruh tubuh. Akibat gerakan otot ini, penderita distonia memiliki postur tubuh yang aneh dan mengalami gemetar (tremor).

Dystonia dapat memengaruhi satu atau beberapa bagian tubuh, dan terkadang seluruh tubuh. Kondisi ini bisa jadi ringan atau parah. Gejala utama distonia ini bisa berupa kontraksi otot tak sadar yang menghasilkan gerakan lambat berulang, kram, atau postur abnormal. Penanganan distonia berupa obat-obatan, suntikan, dan terapi fisik.

Distonia bukanlah penyakit yang sering dijumpai. Tercatat, penyakit ini hanya dialami oleh 1% populasi dunia, dengan jumlah wanita lebih banyak daripada pria. Sayangnya, masih belum ada data mengenai angka kejadian distonia di kawasan Asia, terutama di Indonesia.

Baca Juga :  Gejala dan Penyebab Tendinitis

Jenis Jenis Dytonia

Berdasarkan bagian tubuh yang diserang, dystonia diklasifikasikan menjadi:

Dystonia multifokal, yaitu dystonia yang memengaruhi lebih dari satu bagian tubuh yang tidak terkait.
Dystonia segmental, yaitu dystonia yang melibatkan bagian tubuh yang berdekatan.
Dystonia umum, yaitu dystonia yang memengaruhi sebagian besar atau seluruh tubuh.
Hemidystonia, yaitu dystonia yang memengaruhi lengan dan kaki pada sisi tubuh yang sama.
Dystonia fokal, yaitu dystonia yang hanya memengaruhi bagian tubuh tertentu.

Penyakit distonia ini mungkin membuat penderita tiba-tiba diam membeku di tengah aktivitas yang sedang dijalani. Dystonia mungkin akibat dari mutasi genetik (dystonia primer) atau gangguan karena obat (dystonia sekunder). Berikut jenis-jenis dystonia yang perlu diketahui diantaranya:

  1. Dystonia servikalis atau tortikolis, yaitu tipe dystonia yang paling umum. Biasanya kondisi ini terjadi pada orang di usia paruh baya. Dystonia servikalis memengaruhi otot leher, menyebabkan kepala berputar dan berbalik, dan ditarik ke belakang atau ke depan secara tidak sengaja.
  2. Blepharospasm, yaitu jenis dystonia yang memengaruhi mata. Biasanya dimulai dengan berkedip tak terkendali. Pada awalnya, kondisi ini hanya memengaruhi satu mata hingga pada akhirnya menyerang pada kedua mata. Kejang menyebabkan kelopak mata menutup secara tak sengaja.Terkadang kondisi ini menyebabkan kedua mata tetap tertutup. Biasanya, orang yang mengalami kejadian ini adalah orang yang penglihatannya normal. Akan tetapi dengan terjadinya blepharospasm ini, menjadikan seseorang buta secara fungsional.
  3. Dystonia kranial, yaitu jenis dytonia yang memengaruhi otot kepala, wajah, dan leher.
  4. Dystonia spasmodik, yaitu jenis dystonia yang memengaruhi otot tenggorokan yang digunakan untuk berbicara.
  5. Dystonia tardive, yaitu jenis dystonia yang disebabkan oleh reaksi terhadap obat. Biasanya, gejalanya hanya sementara dan bisa diobati dengan pengobatan.
  6. Dystonia oromandibular, yaitu jenis dystonia yang menyebabkan kejang pada rahang, bibir, dan otot lidah. Dystonia ini dapat menyebabkan masalah bicara dan menelan.
  7. Dystonia torsio, yaitu kelainan yang sangat jarang terjadi. Kondisi ini memengaruhi seluruh tubuh dan secara serius menimpa orang yang mengidap penyakit ini. Gejala umumnya muncul pada masa kanak-kanak dan bertambah parah seiring bertambahnya usia. Peneliti telah menemukan bahwa dystonia torsio kemungkinan diwariskan dari orangtua, yang disebabkan oleh mutasi pada gen DYT1.
  8. Dystonia paroksismal bersifat episodik. Gejalanya hanya terjadi saat serangan. Selebihnya orang tersebut dalam kondisi normal.
  9. Kram penulis (writer’s cramp), yaitu sejenis dystonia yang hanya terjadi saat menulis. Kondisi ini memengaruhi otot tangan atau lengan bawah.

Baca Juga : Gejala dan Penyebab Osteomielitis

Tanda dan Gejala Distonia

Gejala distonia sangat bervariasi, tergantung dari bagian tubuh yang terkena, antara lain:

  • Kedutan.
  • Gemetar (tremor).
  • Anggota tubuh pada posisi yang tidak biasa, misalnya leher yang miring.
  • Kram otot.
  • Mata berkedip tanpa kendali.
  • Gangguan berbicara dan menelan.

Gejala tersebut bisa bisa muncul saat masih anak-anak (distonia dini) atau saat sudah dewasa (distonia lambat). Gejala yang muncul pada distonia dini lebih sering mengenai anggota gerak dan menyebar ke bagian tubuh yang lain. Sedangkan distonia lambat sering kali hanya terbatas pada salah satu anggota tubuh, terutama daerah wajah atau leher.

Penyebab dan Faktor Risiko Distonia

Penyebab distonia belum diketahui dengan jelas, tapi penyakit ini diduga berkaitan dengan kelainan genetik yang diturunkan. Akan tetapi ada bebarapa faktor yang memicu terjadinya distonia, diantaranya seperti:

  • Gangguan pada sistem saraf, contohnya penyakit Parkinson, multiple sclerosis, lumpuh otak (cerebral palsy), tumor otak, dan stroke.
    Infeksi, seperti HIV dan radang otak (ensefalitis).
  • Penyakit Wilson.
  • Penyakit Huntington.
  • Obat-obatan, seperti obat untuk mengobati skizofrenia dan antikejang.
    Cedera kepala atau tulang belakang.
  • Penggunaan obat donepezil pada penderita penyakit Alzheimer juga diduga bisa memicu distonia pada leher.

Cara Mendiagnosis Distonia

Untuk mendiagnosis distonia, dokter saraf akan menanyakan beberapa hal seperti usia saat gejala muncul untuk pertama kali; urutan bagian tubuh yang terkena; serta apakah distonia penyakit memburuk secara cepat.
Setelah itu, pasien akan disarankan untuk menjalani berbagai pemeriksaan tambahan berikut:

Tes urine dan darah. Tes ini bertujuan untuk memeriksa ada tidaknya infeksi atau senyawa beracun di dalam tubuh pasien, serta untuk menilai fungsi organ tubuh secara menyeluruh.
Magnetic resonance imaging (MRI). Ini bertujuan untuk memeriksa apakah ada kelainan di otak, seperti stroke dan tumor otak.
Electromyography (EMG). Ini bertujuan untuk menilai aktivitas aliran listrik di dalam otot.
Tes genetik. Pengambilan sampel DNA digunakan untuk mencari tahu apakah pasien memiliki kelainan genetik yang berhubungan dengan distonia, misalnya penyakit Huntington.

Baca Juga : Penyakit Arthritis (Radang Sendi)

Pengobatan Distonia

Sampai saat ini belum diketahui pengobatan yang bisa menyembuhkan distonia. Akan tetapi, ada beberapa pengobatan untuk mengurangi frekuensi kemunculan gejala dan tingkat keparahannya, diantaranya seperti:

Obat-obatan. Obat-obatan yang diberikan pada penderita distonia adalah obat yang mempengaruhi sinyal di otak. Beberapa obat yang dapat diberikan diantaranya seperti:

  • Trihexyphenidyl
  • Diazepam
  • Lorazepam
  • Baclofen
  • Clonazepam

Suntikan botox (botulinum toxin). Obat ini akan langsung disuntikkan pada area yang terkena dan perlu diulang setiap 3 bulan.
Fisioterapi. Tujuannya untuk melatih kembali otot yang terkena.
Operasi. Jenis operasi yang disarankan dokter adalah memasang alat khusus untuk mengalirkan arus listrik ke otak (deep brain stimulation), atau memotong saraf yang mengatur otot yang terkena (selective denervation and surgery).

Demikian pembahasan tentang penyakit dystonia semoga bermanfaat.