Parestesia : Gejala, Penyebab, Cara Mencegah dan Mengobati Parestesia (Kesemutan)

Posted on

Parestesia (Kesemutan) – Parestesia adalah sensasi kesemutan, menggelitik, menusuk-nusuk, atau pembakaran kulit seseorang tanpa efek fisik jangka panjang yang jelas.

Parestesia atau lebih dikenal dengan kesemutan adalah sensasi seperti tertusuk jarum atau mati rasa pada bagian tubuh tertentu. Parestesia bisa terjadi di bagian tubuh mana pun, tetapi paling sering terjadi di tangan, kaki, dan kepala.

Baca Juga : Tremor

Parestesia bisa bersifat sementara atau terjadi secara berkepanjangan. Parestesia sementara terjadi akibat tekanan pada saraf tertentu, misalnya saat tidur dengan menindih lengan atau duduk bersila. Kesemutan yang bersifat sementara akan hilang jika sudah tidak ada tekanan pada saraf.

Sedangkan parestesia yang terjadi berkepanjangan bisa menjadi gejala suatu penyakit seperti diabetes. Jka parestesia terjadi secara berulang dan terus-menerus tanpa sebab yang jelas maka segera periksakan ke dokter.

Tanda dan Gejala Parestesia (Kesemutan)

Kesemutan atau parestesia bisa terjadi di bagian tubuh mana saja, tapi sering kali kesemutan terjadi di tangan, kaki, juga kepala. Saat mengalami parestesia, area yang terdampak akan merasakan:

  • Mati rasa
  • Lemah
  • Seperti tertusuk jarum
  • Seperti terbakar atau dingin

Keluhan tersebut bisa terjadi sementara maupun berkepanjangan. Jika berkepanjangan, bagian tubuh yang kesemutan bisa menjadi kaku, atau jika terjadi di kaki, bisa mengakibatkan penderitanya sulit berjalan.

Karakteristik gejala atau munculnya gejala lain yang menyertai kesemutan akan berbeda-beda sesuai penyebabnya. Misalnya pada parestesia yang disebabkan oleh komplikasi penyakit diabetes (neuropati diabetik), kesemutan bisa menjalar naik dari telapak kaki ke tungkai atau dari tangan ke lengan.

Baca Juga : Kejang

Penyebab Parestesia (Kesemutan)

Penyebab parestesia tidak selalu bisa dipastikan. Kesemutan yang terjadi sementara disebabkan oleh tekanan pada saraf atau terhambatnya sirkulasi darah. Kondisi ini bisa terjadi saat menekuk kaki terlalu lama, misalnya saat duduk bersila, atau ketika tidur dengan tangan tertindih. Kesemutan juga bisa terjadi pada orang yang memiliki aktivitas dengan gerakan berulang, misalnya pemain biola atau atlet tenis.

Sedangkan kesemutan yang terjadi secara berkepanjangan bisa menjadi tanda adanya suatu penyakit, seperti:

  • Kekurangan vitamin B12.
  • Penyakit infeksi, seperti HIV/AIDS, herpes zoster, hepatitis B, hepatitis C, dan penyakit Lyme.
  • Penyakit sistem kekebalan tubuh, seperti lupus, sindrom Sjögren, sindrom Guillain-Barré, penyakit celiac, dan rheumatoid arthritis.
  • Efek samping obat-obatan kemoterapi, obat antikejang, dan obat untuk HIV/AIDS.
  • Pada beberapa kasus, kesemutan bisa terjadi hanya di tangan dan kaki atau hanya di kepala, seperti akan dijelaskan di bawah ini:

Parestesia di tangan dan kaki

Kesemutan di tangan dan kaki paling sering disebabkan oleh neuropati diabetik, yaitu kerusakan saraf akibat penyakit diabetes. Kondisi lain yang dapat menyebabkan kesemutan di tangan dan kaki diantaranya yaitu:

  • Kehamilan.
  • Gagal ginjal.
  • Kista ganglion.
  • Carpal tunnel syndrome.
  • Saraf kejepit (hernia nukleus pulposus).
  • Kekurangan hormon tiroid (hipotiroidisme).
  • Paparan zat kimia, seperti arsenik atau merkuri.

Baca Juga : Penyakit Beri-Beri

Parestesia di kepala

Kesemutan di kepala tidak perlu dikhawatirkan, tapi pada beberapa kasus, parestesia di kepala bisa menjadi tanda dari kondisi seperti:

  • Sinusitis
  • Stres
  • Gangguan kecemasan
  • Gangguan elektrolit
  • Migrain
  • Cedera kepala
  • Hipertensi
  • Konsumsi minuman beralkohol
  • Penyalahgunaan NAPZA
  • Epilepsi
  • Multiple sclerosis
  • Tumor otak

Cara Mendiagnosis Parestesia (Kesemutan)

Untuk mendeteksi penyebab kesemutan yang berkepanjangan, dokter akan menanyakan gejala dan aktivitas pasien. Dokter juga akan menanyakan riwayat penyakit pasien dan pengobatan yang sedang dijalani. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama pemeriksaan saraf.

Untuk mencari penyebabnya, dokter bisa melakukan pemeriksaan seperti:

  • Tes darah, tujuannya untuk memeriksa kadar elektrolit, vitamin, hormon, dan zat kimia dalam darah.
  • Pemeriksaan fungsi saraf, mencakup tes aktivitas listrik otot (elektromiografi) dan tes kecepatan hantar saraf (nerve velocity test).
  • Pencitraan, mencakup foto Rontgen, CT scan, atau MRI.
  • Pemeriksaan lumbal pungsi (spinal tap), ini dilakukan dengan mengambil sampel cairan saraf tulang belakang
  • Biopsi, ini dilakukan dengan mengambil sampel jaringan kulit atau saraf untuk diperiksa di laboratorium.

Baca Juga : Tendinitis

Pencegahan Parestesia (Kesemutan)

Kesemutan tidak selalu bisa dicegah, tapi frekuensi terjadinya kesemutan bisa dikurangi dengan melakukan beberapa langkah berikut ini, seperti:

  • Hindari melakukan gerakan berulang yang dapat menekan saraf.
  • Istirahat secara berkala jika sering melakukan gerakan secara berulang.
  • Bangun atau berjalan dulu selama beberapa saat setelah duduk dalam waktu yang lama.

Pengobatan Parestesia (Kesemutan)

Penanganan parestesia dilakukan tergantung pada penyebabnya. Apabila parestesia yang dialami pasien merupakan gejala suatu penyakit, maka dokter akan mengobati penyakit tersebut, seperti dengan:

  • Mengendalikan kadar gula darah, jika penyebabnya adalah diabetes.
  • Memberikan suplemen vitamin B12, jika penyebabnya adalah kekurangan vitamin B12.
  • Menurunkan tekanan darah, jika penyebabnya adalah hipertensi.

Selain itu, dokter akan meresepkan obat untuk meredakan gejala seperti obat pregabalin atau gabapentin untuk meredakan keluhan neuropati diabetik. Dokter juga bisa mengganti atau menghentikan obat yang memicu parestesia. Operasi bisa dilakukan pada kondisi tertentu, seperti saraf kejepit atau kista ganglion.

Baca Juga : Distonia

Demikian pembahasan tentang penyakit parestesia, mulai dari gejala, penyebab, diagnosa, cara mencegah dan mengobati parestesia atau kesemutan, semoga bermanfaat dan jangan lupa ikuti postingan lainnya.