Paraplegia : Jenis, Gejala, Penyebab, Diagnosa dan Cara Mengobati Penyakit Paraplegia

Posted on

Penyakit Paraplegia – Paraplegia merupakan kelumpuhan yang mempengaruhi semua atau sebagian batang tubuh, tungkai dan organ panggul. Paraplegia adalah kondisi hilangnya kemampuan untuk menggerakkan anggota tubuh bagian bawah yang meliputi kedua tungkai dan organ panggul. Kondisi ini bisa bersifat sementara bahkan permanen tergantung penyebabnya.

Kondisi ini berbeda dengan paraparesis yang masih bisa menggerakkan kedua tungkai meski kekuatannya berkurang, paraplegia sama sekali tidak bisa menggerakkan kedua tungkai.

Baca Juga : Kanker Tulang

Jenis Paraplegia

Berdasarkan efek dan gejalanya pada otot, jenis paraplegia diantaranya yaitu:

  • Paraplegia spastik, yaitu kondisi paraplagia dimana otot-otot pada bagian yang mengalami kelumpuhan dalam kondisi kaku dan tegang.
  • Paraplegia flaksid, yaitu kondisi paraplagia dimana otot-otot pada bagian yang mengalami kelumpuhan dalam kondisi lemas dan terkulai. Kondisi otot ini cenderung bisa mengkerut.

Tanda dan Gejala Paraplegia

Paraplegia bisa terjadi tiba-tiba dan bertahap. Kelumpuhan ini bisa terjadi hilang dan muncul bergantung penyebabnya. Kelumpuhan yang terjadi tidak hanya di kedua tungkai tapi juga otot panggul termasuk organ di dalamnya. Sehingga penderita paraplagia bisa mengalami hilangnya kontrol pada buang air besar dan buang air kecil, selain itu aktivitas seksual dan kesuburan.

Tidak hanya kelumpuhan, kedua tungkai juga bisa mati rasa atau justru menjadi kesemutan dan nyeri. Ada beberapa penyebab dari paraplagia bisa menyebabkan kelumpuhan yang perlahan naik ke bagian tubuh atas.

Baca Juga : Osteoporosis (Pengeroposan Tulang)

Cara Mendiagnosis Paraplegia

Untuk dapat mendiagosis paraplegia, dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan mengenai riwayat kesehatan keluarga dan gejala yang dialami pasien.

Selain itu, dokter akan melakukan serangkaian tes pencitraan untuk mendapat gambaran bagian tubuh secara detail. Beberapa jenis tes pencitraan yang biasa dilakukan untuk mendiagnosa paraplagia diantaranya yaitu:

  • Foto Rontgen. Tujuannya untuk mendeteksi adanya tumor atau retakan pada tulang belakang.
  • CT Scan. Tujuannya untuk memahami lebih jauh tingkat keparahan cedera tulang belakang yang dialami.
  • MRI bagian otak dan tulang belakang. Tujuannya untuk melihat kelainan yang berisiko menekan saraf tulang belakang.
  • Elektromiogafi (EMG). Tujuannya untuk mengukur aktivitas listrik pada otot dan saraf penderita.

Baca Juga : Penyakit Osteofit

Pengobatan Paraplegia

Cara mengobati paraplagia dilakukan tergantung pada penyebabnya. Berikut ini beberapa pengobatan paraplegia yang biasa dilakukan diantaranya yaitu:

  • Obat. Tujuan pengobatan ini dilakukan untuk mengurangi rasa sakit, mengobati otot yang kaku dan tegang. Selain itu kortikosteorid bisa mengurangi peradangan di saraf tulang belakang.
  • Fisioterapi. Tujuannya untuk membantu meningkatkan kekuatan otot dan kemampuan bergerak.
  • Pembedahan. Ini dilakukan pada penderita cedera saraf tulang belakang dengan mengangkat pecahan tulang, benda asing dan bantalan tulang yang menekan saraf sehingga menyebabkan regenerasi saraf.
  • Alat bantu gerak. Tujuannya untuk membantu pasien untuk bergerak, alat bantu gerak diantaranya yaitu tongkat atau kursi roda.

Baca Juga : Penyakit Osteosarcoma

Komplikasi Paraplegia

Apabila tidak ditangani dengan baik maka kan menyebabkan komplikasi diantaranya yaitu:

  • Ulkus dekubitus, yaitu luka yang terjadi pada kulit yang terus tertekan akibat tidak dapat menggerakan bagian tersebut.
  • Penggumpalan darah pada pembuluh darah tungkai (deep vein thrombosis).
  • Pneumonia atau infeksi paru-paru.
  • Depresi.
  • Kelumpuhan otot pernapasan.

Demikian pembahasan tentang penyakit paraplegia, mulai dari jenis, gejala, penyebab, diagnosa, cara mengobati dan komplikasi paraplegia. Semoga bermanfaat