Penyakit Beri-Beri : Jenis, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati dan Mencegah Penyakit Beri-Beri

Posted on

Penyakit Beri-Beri – Beri-beri adalah penyakit yang disebabkan kekurangan vitamin B1 atau tiamin yaitu nutrisi yang membantu tubuh mengubah makanan menjadi sumber energi dan menjaga fungsi jaringan tubuh, akibat yang ditimbulkan biasanya berupa bengkak-bengkak dan pembesaran pada betis.

Penyakit beri-beri ini bisa menyerang bayi berusia 1-4 bulan hingga dewasa. Terdapat 3 jenis penyakit beri-beri yaitu beri-beri kering, beri-beri basah dan beri-beri jantung.

Penyebab Penyakit Beri-beri

Penyebab utama penyakit beri-beri yaitu kekurangan atau defisiensi vitamin B1 atau tiamin dalam tubuh.

Beri-beri kering
Umumnya, beri-beri kering terjadi pada penderita dengan konsumsi kalori rendah dan minim olahraga, yang mengakibatkan sistem saraf seperti gerakan motorik, sensorik, dan refleks terganggu, khususnya pada otot bagian bawah tubuh.

Dalam kondisi yang parah, sindrom Wernicke-Korsakoff dapat terjadi dengan gejala yang ditimbulkan seperti muntah, nistagmus horizontal atau tremor kecil pada mata, penurunan fungsi penglihatan, demam, ataksia atau penyakit yang mengganggu saraf motorik, dan kerusakan mental secara progresif.

Beri-beri basah
Umumnya, beri-beri basah menyerang organ jantung. Intensitas penyakit ini ada 3 tahap yang saling berkaitan, mulai dari potensi edema, cedera otot jantung, hingga penyakit beri-beri kardiovaskular akut (Shoshin beri-beri).

Secara umum, peningkatan aktivitas jantung akan mengakibatkan retensi garam dan air pada ginjal. Apabila didiamkan, kondisi ini berpotensi mengakibatkan retensi cairan di seluruh tubuh (edema). Edema yang tidak ditangani bisa mengakibatkan jantung bekerja ekstra keras untuk memasok cairan dan oksigen untuk memenuhi kebutuhan organ lainnya. Hal ini berpotensi mengakibatkan otot jantung cedera dan memicu gejala seperti takikardia (gangguan denyut jantung), hipertensi, serta nyeri dada.

Cedera otot jantung yang tidak ditangani segera bisa mengakibatkan kerusakan yang lebih jauh. Shoshin beri-beri mengakibatkan jantung tidak mampu memasok keperluan organ lainnya dengan baik karena luka yang dialami. Hal ini memicu terjadinya sianosis yaitu perubahan warna kulit pada kaki dan tangan; takikardia; pembengkakan pembuluh darah di leher dan berpotensi mengakibatkan gagal jantung. Hal ini merupakan tahap darurat dan perlu ditangani dengan cepat untuk menghindari kematian dalam hitungan jam hingga hari.

Tanda dan Gejala Penyakit Beri-beri

Berikut ini gejala-gejala atau tanda penyakit beri-beri, diantaranya yaitu:

Gejala penyakit beri-beri kering

  • Kesulitan berjalan.
  • Nyeri hingga kehilangan fungsi otot tubuh.
  • Merasakan sensasi geli di titik tertentu.
  • Kehilangan kemampuan rasa atau sensasi di tangan atau kaki.
  • Kelumpuhan tungkai bagian bawah.
  • Nistagmus atau tremor/kejang pada mata.
  • Kesulitan berbicara.
  • Linglung.
  • Mual.

Gejala penyakit beri-beri basah

  • Napas pendek saat melakukan aktivitas tertentu.
  • Kesulitan bernapas saat tidur.
  • Denyut jantung meningkat.
  • Pembengkakan di tungkai bagian bawah.

Gejala penyakit beri-beri jantung

  • Rasa tekanan di ulu hati.
  • Sesak napas
  • Berdebar-debar dalam menjalankan kegiatannya.

Dalam kasus tertentu, penyakit beri-beri bisa diasosiasikan dengan sindrom Wernicke-Korsakoff, yaitu kerusakan otak yang diakibatkan oleh defisiensi tiamin. Adapun gejala yang dapat dialami meliputi:

  • Linglung.
  • Kehilangan kemampuan mengingat dan meresap memori yang baru.
  • Halusinasi.
  • Kehilangan koordinasi otot.
  • Mengalami masalah penglihatan, seperti penglihatan ganda atau kejang mata.

Faktor Risiko Penyakit Beri-Beri

Risiko seseorang menderita penyakit beri-beri berkaitan dengan kebiasaan mengonsumsi beras giling (tanpa kulit), mengonsumsi alkohol secara berlebihan, dan jarang mengonsumsi makanan yang kaya vitamin B1. Selain itu, faktor lain yang dapat memicu seseorang terserang penyakit beri-beri, diantaranya yaitu:

  • Mengalami elainan genetik (jarang terjadi).
  • Mengalami¬† hipertiroidisme (kelenjar tiroid overaktif).
  • Menjalani cuci darah (hemodialisis).
  • Mengidap AIDS.
  • Baru melakukan bedah bariatrik atau penurunan berat badan bagi penderita obesitas.
  • Mengkonsumsi obat diuretik secara jangka panjang.
  • Mual dan muntah berlebih saat hamil.
  • Ibu menyusui.
  • Bayi yang mengkonsumsi susu dengan kadar tiamin rendah.

Cara Mendiagnosis dan Pengobatan Penyakit Beri-beri

Untuk bisa mendiagnosis penyakit beri-beri maka dokter akan melakukan beberapa tindakan diantaranya yaitu:

  • Pemeriksaan fisik, seperti memeriksa denyut jantung pasien, pembengkakan pada kaki atau tangan dan kemampuan bernapas.
  • Tes darah, ini dilakukan untuk memeriksa kadar tiamin dalam darah, asam piruvat, laktat, alpha ketoglutarate, dan glikosilat.
  • Tes urine, ini dilakukan untuk memeriksa kadar tiamin yang dikeluarkan tubuh.
  • Pemindaian (MRI, CT scan, EEG, atau ekokardiogram), ini dilakukan untuk memeriksa kondisi organ dalam tubuh.
  • Pemeriksaan neurologi, seperti memeriksa koordinasi tubuh, kemampuan berjalan, refleks, kondisi mata, dan otak.

Secara umum, penyakit beri-beri bisa disembuhkan dengan menggunakan suplemen tiamin, baik yang diminum secara oral atau melalui suntikan untuk mengganti kandungan tiamin yang kurang dalam tubuh. Selain itu, dokter mungkin akan meresepkan vitamin atau obat-obatan lain sesuai kondisi yang dialami. Selama pengobatan, pasien akan disarankan untuk melakukan tes darah secara rutin untuk memonitor efek pengobatan yang diberikan.

Cara Mencegah Penyakit Beri-Beri

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit beri-beri diantaranya yaitu:

  • Mengkonsumsi makanan yang kaya vitamin B1 atau tiamin seperti daging, ikan, kacang-kacangan (khususnya kacang polong), biji-bijian, nasi, susu, sereal, asparagus, bayam, labu acorn, tauge dan bit hijau.
  • Hindari mengolah atau memasak makanan yang mengandung tiamin untuk waktu yang lama.
  • Hindari konsumsi alkohol berlebih karena tubuh tidak mampu meresap tiamin dalam kondisi panas.
  • Periksa kandungan vitamin B1 di dalam susu formula sebelum membeli, agar kebutuhan zat tersebut pada sang bayi bisa terpenuhi (bagi ibu yang memiliki bayi).

Demikian penjelasan tentang “Penyakit Beri-Beri : Jenis, Penyebab, Gejala, Cara Mengobati dan Mencegah Penyakit Beri-Beri“, semoga bermanfaat