Disartria : Jenis, Gejala, Penyebab, Faktor Risiko, Pengobatan dan Pencegahan Penyakit Disartria

Posted on

Penyakit Disartria (Dysarthria) – Disartria (Dysarthria) adalah kondisi lemah pada otot yang digunakan untuk berbicara, membuat bicara lambat atau tidak jelas.

Disartria adalah kelainan pada sistem saraf sehingga mempengaruhi otot yang berfungsi untuk berbicara. Disartria tidak memengaruhi kecerdasan atau tingkat pemahaman penderitanya, tapi tetap tidak menutup kemungkinan penderita kondisi ini mengalami gangguan tersebut.

Jenis-Jenis Disartria

Berdasarkan lokasi kerusakan, disartria dibagi menjadi beberapa jenis diantaranya yaitu:

Disartria spastik, yaitu jenis disartria yang peling sering terjadi. Disartria spastik disebabkan kerusakan pada otak besar. Paling sering, kerusakan tersebut disebabkan oleh cedera kepala berat.

Disartria ataksik, yaitu jenis disartria yang muncul pada seseorang akibat adanya pada otak kecil (serebelum), seperti peradangan, yang mengatur kemampuan berbicara.

Disartria hipokinetik, yaitu jenis disartria yang terjadi akibat adanya kerusakan di salah satu bagian otak yang dinamakan ganglia basal. Salah satu contoh penyakit yang menyebabkan disartria hipokinetik yaitu penyakit Parkinson.

Disartria diskinetik dan distonik, yaitu jenis disartria yang muncul akibat kelainan pada sel-sel otot yang berperan pada kemampuan berbicara. Contoh disartria ini yaitu penyakit Huntington.

Disartria flaksid, yaitu jenis disartria yang terjadi akibat kerusakan pada batang otak atau saraf tepi. Disartria ini muncul pada penderita penyakit Lou Gehrig atau tumor pada saraf tepi dan juga penderita myasthenia gravis.

Disartria campuran, yaitu kondisi ketika seseorang menderita beberapa jenis disartria sekaligus. Disartria campuran bisa terjadi akibat kerusakan pada jaringan saraf yang menyebar luas, seperti pada cedera kepala berat, ensefalitis, atau stroke.

Tanda dan Gejala Disartria

Gejala umum disartria diantaranya yaitu:

  • Suara serak atau sengau.
  • Nada bicara monoton.
  • Irama berbicara yang tidak biasa.
  • Berbicara terlalu cepat atau berbicara dengan lambat.
  • Tidak mampu berbicara dengan volume keras, atau malah berbicara dengan volume terlalu pelan.
  • Bicara cadel.
  • Kesulitan menggerakkan lidah atau otot-otot wajah.
  • Kesulitan menelan (disfagia), yang bisa menyebabkan air liur keluar secara tidak terkontrol.

Penyebab dan Faktor Risiko Disartria

Penderita disartria mengalami kesulitan dalam mengontrol otot bicaranya, hal tersebut terjadi karena bagian otak juga saraf yang mengontrol pergerakan otot tersebut tidak berfungsi secara normal. Beberapa kondisi medis yang dapat meningkatkan risiko terkena disartria diantaranya yaitu:

  • Cedera kepala.
  • Infeksi otak.
  • Tumor otak.
  • Stroke.
  • Myasthenia gravis.
  • Multiple sclerosis.
  • Lumpuh otak (cerebral palsy).
  • Bell’s palsy.
  • Cedera pada lidah.
  • Sindrom Guillain-Barre.
  • Penyakit Huntington.
  • Penyakit Wilson.
  • Penyakit Parkinson.
  • Penyakit Lyme.
  • Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) atau penyakit Lou Gehrig.
  • Distrofi otot.
  • Penyalahgunaan NAPZA.

Pengobatan Disartria

Pengobatan bagi penderita disartria dibedakan berdasarkan beberapa faktor, yaitu penyebab, tingkat keparahan gejala, dan jenis disartria yang diderita. Fokus pengobatan disartria yaitu untuk mengatasi penyebabnya, misalnya jika disebabkan oleh tumor, pasien akan menjalani operasi untuk mengangkat tumor sesuai dengan petunjuk dokter.

Pasien disartria bisa menjalani terapi untuk memperbaiki kemampuan berbicara, sehingga bisa berkomunikasi dengan lebih baik. Terapi bagi pasien disartria disesuaikan dengan jenis dan tingkat keparahan disartria, diantaranya seperti:

  • Terapi untuk memperlambat kemampuan berbicara.
  • Terapi untuk berbicara dengan lebih keras.
  • Terapi untuk berbicara dengan perkataan dan kalimat yang lebih jelas.
  • Terapi untuk melatih otot mulut lebih kuat.
  • Terapi untuk memperlincah gerakan lidah dan bibir.

Selain untuk meningkatkan kemampuan berbicara, alternatif lain untuk memperbaiki komunikasi penderita dosartria yaitu bisa dilatih untuk menggunakan bahasa isyarat. Untuk membantu komunikasi, ada beberapa hal yang bisa dilakukan pasien disartria, diantaranya yaitu:

  • Sebelum menjelaskan keseluruhan kalimat, katakan satu topik agar lawan bicara tahu topik apa yang sedang dibicarakan.
  • Tidak berbicara terlalu banyak ketika sedang lelah, karena tubuh yang lelah akan membuat pembicaraan menjadi sulit dimengerti.
  • Tanyakan pada lawan bicara untuk memastikan bahwa lawan bicara benar-benar mengerti apa yang dikatakan.
  • Berbicara dengan lebih lambat dan ada jeda, sehingga pembicaraan menjadi jelas.
  • Membantu pembicaraan dengan menunjuk benda, menggambar, atau tulisan.

Pencegahan Disartria

Meski penyebab munculnya disartria cukup beragam, ada beberapa jenis penyebab disartria yang bisa dicegah dengan kebiasaan dan pola hidup sehat, seperti:

  • Rutin berolahraga.
  • Membatasi konsumsi minuman beralkohol.
  • Tidak mengkonsumsi obat-obatan tanpa resep dari dokter.
  • Mengkonsumsi lebih banyak buah dan sayur.
  • Berhenti merokok.

Demikian pembahasan tentang “Disartria : Jenis, Gejala, Penyebab, Faktor Risiko, Pengobatan dan Pencegahan Penyakit Disartria“, semoga bermanfaat