Hipokalemia : Gejala, Penyebab, Cara Mencegah dan Mengobati Penyakit Hipokalemia

Posted on

Gejala, Penyebab, Cara Mencegah dan Mengobati Penyakit Hipokalemia – Hipokalemia merupakan kadar kalium elektrolit yang rendah dalam darah. Hipokalemia adalah kondisi ketika tubuh kekurangan kalium atau potasium. Kondisi ini dapat dialami siapa saja, terutama penderita diare atau muntah-muntah. Penanganan hipokalemia perlu segera dilakukan untuk mencegah komplikasi serius, seperti gangguan jantung.

Baca Juga : Hiponatremia

Lebih singkatnya, hipokalemia disebut dengan kekurangan kalium. Kalium adalah mineral dalam tubuh yang mengendalikan fungsi sel saraf dan otot, terutama otot jantung. Kalium juga berperan dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh dan mengatur tekanan darah. Ketika kadar kalium dalam tubuh berkurang, berbagai gejala akan muncul, tergantung pada jumlah kalium yang hilang.

Tanda dan Gejala Hipokalemia (Kekurangan Kalium)

Gejala bisa muncul ketika kadar kalium dalam tubuh rendah yaitu di bawah 3,6 mmol/L. Walaupun umumnya hipokalemia ringan tidak menimbulkan gejala. Gejala awal yang muncul diantaranya yaitu:

Baca Juga : Penyakit Dislipidemia

  • Mual dan muntah
  • Nafsu makan menghilang
  • Konstipasi
  • Tubuh terasa lemah
  • Kesemutan
  • Kram otot
  • Jantung berdebar

Kadar kalium dalam darah yang sangat rendah, yaitu kurang dari 2,5 mmol/L, dapat berakibat fatal. Kondisi ini tergolong hipokalemia berat. Beberapa gejala hipokalemia berat yang dapat muncul adalah:

Gangguan irama jantung yang muncul bisa terlalu lambat (bradikardia), terlalu cepat (takikardia), atau tidak beraturan, misalnya atrial fibrilasi. Kondisi ini lebih berisiko terjadi pada orang yang mengkonsumsi obat digoxin.

Segera periksakan ke dokter jika muncul gejala hipokalemia, terutama setelah muntah, diare, mengkonsumsi obat diuretik, atau menderita penyakit ginjal. Tindakan pengobatan perlu segera dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi.

Baca Juga : Penyakit Hipoksia

Penyebab Hipokalemia (Kekurangan Kalium)

Hipokalemia terjadi ketika tubuh terlalu banyak mengeluarkan kalium. Kondisi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor penyebab kekurangan kalium yang paling umum adalah:

  • Muntah-muntah
  • Diare berlebih
  • Penyakit ginjal atau gangguan pada kelenjar adrenal
  • Konsumsi obat diuretik

Meski jarang terjadi, kekurangan kalium juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:

  • Kekurangan asam folat
  • Ketoasidosis diabetik
  • Rendahnya kadar magnesium dalam tubuh (hipomagnesemia)
  • Konsumsi obat asma atau antibioitik
  • Penggunaan obat pencahar dalam jangka panjang
  • Konsumsi alkohol secara berlebihan
  • Kebiasaan merokok

Beberapa sindrom juga bisa menyebabkan rendahnya kadar kalium dalam tubuh, di antaranya Sindom Cushing, Sindrom Gitelman, Sindrom Liddle, Sindrom Bartter, dan Sindrom Fanconi.

Baca Juga : Hipotermia

Diagnosis Hipokalemia (Kekurangan Kalium)

Dokter akan menanyakan gejala yang muncul dan memeriksa riwayat kesehatan untuk mengetahui kemungkinan penyakit yang dapat memicu muntah atau diare. Dokter juga akan mengukur tekanan darah, suhu tubuh, dan detak jantung pasien, karena hipokalemia dapat memengaruhi ketiga hal tersebut.

Untuk mengukur kadar kalium dalam darah, dokter akan melakukan tes darah. Kadar kalium normal adalah 3,7-5,2 mmol/L. Jika kadar kalium lebih rendah dari angka tersebut, maka dokter dapat mendiagnosis bahwa pasien mengalami hipokalemia. Selain tes darah, tes urine juga dilakukan untuk mengukur jumlah kalium yang terbuang bersama urine.

Jika pasien memiliki riwayat penyakit jantung, maka dokter akan melakukan elektrokardiogram (EKG) untuk mendeteksi gangguan detak jantung yang diakibatkan oleh rendahnya kadar kalium dalam tubuh.

Baca Juga : Kanker Darah (Leukemia)

Pencegahan Hipokalemia (Kekurangan Kalium)

Pencegahan hipokalemia yang dilakukan tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Apabila kekurangan kalium disebabkan oleh diare, pencegahan bisa dilakukan dengan rajin mencuci tangan, mengkonsumsi minuman dan makanan yang sudah dimasak hingga matang, serta memperbanyak minum air putih.

Apabila kekurangan kalium disebabkan oleh muntah terus-menerus, pencegahannya bisa dilakukan dengan mengkonsumsi minuman manis atau sari buah, mengkonsumsi makanan dalam porsi kecil tapi rutin, dan tidak langsung berbaring setelah makan.

Konsumsi obat diuretik sesuai anjuran dokter. Jenis obat ini akan membuat penggunanya lebih sering buang air kecil, sehingga kalium bisa terbuang bersama urine. Lakukan kontrol rutin ke dokter selama menggunakan obat diuretik.

Baca Juga : Diabetes

Kekurangan kalium juga bisa dihindari dengan mengkonsumsi makanan tinggi kalium, sehingga kadar kalium dalam darah tetap terjaga. Beberapa jenis makanan yang tinggi kalium diantaranya yaitu:

  • Buah-buahan, seperti pisang, jeruk, dan alpukat.
  • Sayur-sayuran, seperti tomat, bayam, dan wortel.
  • Daging sapi.
  • Ikan
  • Kacang-kacangan.
  • Gandum
  • Susu

Akan tetapi, konsultasikan kembali dengan dokter gizi untuk mencegah risiko terjadinya hiperkalemia, terutama jika sedang mengkonsumsi suplemen kalium atau menderita penyakit ginjal.

Pengobatan Hipokalemia (Kekurangan Kalium)

Langkah penanganan hipokalemia tergantung pada rendahnya kadar kalium, penyebab yang mendasarinya dan kemampuan penderita dalam mengkonsumsi cairan atau obat. Apabila kondisinya cukup serius, maka penderita harus menjalani rawat inap di rumah sakit hingga kadar kalium dalam tubuhnya kembali normal.

Baca Juga : Hematochezia (BAB Berdarah)

Berikut ini beberapa tahap penanganan hipokalemia, diantaranya yaitu:

  • Mengobati penyebab hipokalemia. Setelah penyebab kekurangan kalium diketahui secara pasti, dokter akan melakukan pengobatan terhadap penyebab tersebut. Misalnya, dokter bisa memberikan obat antidiare, seperti loperamide atau bismuth subsalicylate, jika penyebab hipokalemia adalah diare.
  • Mengembalikan kadar kalium. Hipokalemia yang ringan dapat diobati dengan mengkonsumsi suplemen kalium. Namun pada hipokalemia yang berat, asupan kalium perlu diberikan melalui infus kalium klorida. Dosis infus disesuaikan dengan kadar kalium dalam darah dan diberikan secara perlahan untuk mencegah risiko terjadinya gangguan jantung.
  • Memantau kadar kalium. Selama menjalani perawatan di rumah sakit, dokter akan memantau kadar kalium pasien melalui tes darah atau tes urine. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah peningkatan kadar kalium yang berlebihan (hiperkalemia), karena kadar kalium yang tinggi juga dapat menyebabkan komplikasi serius.

Baca Juga : Penyakit Hematuria (Kencing Berdarah)

  • Untuk menjaga kadar kalium tetap normal, penderita dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung tinggi kalium seperti kacang-kacangan, bayam, salmon, dan wortel. Dokter juga akan meresepkan suplemen magnesium, karena kadar magnesium dalam tubuh dapat berkurang seiring hilangnya kalium.

Komplikasi Hipokalemia (Kekurangan Kalium)

Deteksi dan penanganan hipokalemia sejak dini perlu dilakukan untuk mencegah komplikasi. Salah satu komplikasi yang paling berbahaya adalah aritmia. Komplikasi ini berisiko terjadi pada penderita hipokalemia yang juga menderita gangguan jantung. Selain itu, kekurangan kalium juga berisiko menyebabkan komplikasi lain jika tidak ditangani secara tepat. Komplikasi tersebut diantaranya yaitu:

  • Rhabdomyolysis
  • Ileus paralitik
  • Gangguan otak pada penderita sirosis (ensefalopati hepatik)
  • Penyakit ginjal
  • Kelumpuhan otot pernapasan.

Demikian pembahasan tentang hipokalemia mulai dari pengertian, gejala, penyebab, cara mencegah dan mengobati penyakit hipokalemia. Semoga bermanfaat dan jangan lupa ikuti postingan berikutnya.