Fimosis : Gejala, Penyebab, Pengobatan dan Pencegahan Fimosis

Posted on

Fimosis – Fimosis merupakan kondisi dimana kulup ketat tidak dapat ditarik kembali pada kepala penis.

Fimosis adalah kelainan pada pria yang belum disunat dimana kulup penis melekat kencang pada kepala penis sehingga tidak dapat ditarik ke belakang melewati kepala penis. Umumnya, kondisi ini terjadi pada anak berusia 2-6 tahun. Seiring waktu, kulup penis seharusnya mulai terpisah dari kepala penis secara alami tapi, bagi beberapa anak, kulup penis masih belum bisa ditarik ke belakang hingga usia 17 tahun.

Fimosis masih dianggap wajar dan tidak menimbulkan masalah selama terjadi saat masih bayi dan balita. Namun, jika kondisi ini menetap hingga anak sudah lebih besar bahkan dewasa atau menimbulkan gejala yang mengganggu seperti sulit buang air kecil, maka diperlukan pertolongan medis secepatnya.

Tanda dan Gejala Fimosis

Secara umum, fimosis tidak menimbulkan rasa nyeri atau gejala apapun. Akan tetapi, penderita fimosis terkadang sulit membersihkan kotoran di bawah kulup penis sehingga membuat penis rentan terkena infeksi.
Pada kasus infeksi yang parah, gejala yang muncul bisa berupa kulit penis berwarna merah, bengkak atau nyeri. Selain itu, fimosis juga bisa menimbulkan kesulitan dalam buang air kecil atau gangguan dalam hubungan seksual, seperti nyeri, kulit penis pecah-pecah, atau kurang merasakan sensasi saat berhubungan seksual.

Penyebab Fimosis

Penyebab fimosis bisa karena bawaan lahir, selain itu fimosis juga bisa disebabkan karena beberapa hal diantaranya seperti:

Masalah medis, seperti diabetes. Penyakit ini membuat penderitanya rentan terkena infeksi yang dapat membentuk jaringan parut pada kulup, sehingga membuat kulit menjadi tidak lentur dan sulit ditarik. Beberapa infeksi yang bisa dialami penderita yaitu balanitis (peradangan pada kepala penis) dan balanoposthitis (peradangan pada kulup dan kepala penis).

Infeksi lainnya yang bisa memicu fimosis bisa ditularkan melalui hubungan seksual. Kondisi ini sering dialami pria dewasa. Selain itu, beberapa gangguan pada kulit juga dapat menyebabkan munculnya fimosis, diantaranya psosiaris, lichen sclerosus (lesi pada kulup atau kepala penis), lichen planus (ruam gatal non infeksi), serta eksim yang membuat kulit berwarna merah, gatal, pecah-pecah dan kering.

Usia. Usia tua menyebabkan berkurangnya kelenturan kulup sehingga sulit ditarik.

Tarikan dan peregangan yang keras. Hal ini bisa membuat kulit kulup robek dan mengalami peradangan, hingga mengarah pada fimosis.

Pengobatan Fimosis

Sebagian besar, fimosis bukan masalah yang serius dan tidak membutuhkan pengobatan tertentu. Tapi jika kondisi tersebut mengganggu kegiatan, maka dokter bisa memberi obat-obatan untuk meringankan gejala yang diderita. Obat-obatan tersebut diantaranya yaitu:

Steroid topikal, yaitu obat yang mengandung kortikosteroid ini tersedia dalam bentuk krim, gel, atau salep. Obat steroid bisa membantu melenturkan kulup sehingga memudahkan untuk ditarik.
Krim antijamur, krim ini diberikan pada penderita yang mengalami infeksi karena jamur.
Antibiotik, ini diberikan untuk mengatasi infeksi yang terjadi karena bakteri.

Bagi penderita fimosis dewasa yang akan melakukan aktivitas seksual, dokter biasanya akan menyarankan penggunaan kondom dan pelumas di samping obat-obatan tersebut, untuk mencegah rasa tidak nyaman atau nyeri saat melakukan hubungan. Jika infeksi terjadi secara berulang meski sudah diatasi dengan obat-obatan, dokter kemungkinan akan menyarankan dilakukannya sirkumsisi atau sunat .

Pencegahan Fimosis

Berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya atau terulangnya fimosis, diantaranya:

  • Mencuci penis setiap hari dengan air hangat saat mandi.
  • Menggunakan sabun ringan yang tidak mengandung parfum dan menghindari penggunaan talk atau deodoran pada penis untuk mengurangi risiko iritasi pada organ tersebut.
  • Tarik kulup penis perlahan untuk membersihkan kulit di bawah kulup dan jangan menarik kulup dengan keras karena bisa menimbulkan nyeri dan luka.

Demikian artikel tentang “Fimosis : Gejala, Penyebab, Pengobatan dan Pencegahan Fimosis“, semoga bermanfaat.