Akromegali : Gejala, Penyebab, Pengobatan dan Komplikasi Akromegali

Posted on

Gejala, Penyebab, Pengobatan dan Komplikasi Akromegali – Akromegali adalah suatu gangguan pada orang dewasa saat kelenjar hipofisis menghasilkan terlalu banyak hormon pertumbuhan. Biasanya, akromegali disebabkan oleh tumor bukan kanker. Orang dewasa setengah baya paling sering terkena.

Akromegali adalah kelainan yang muncul karena tubuh kelebihan hormon pertumbuhan (growth hormone), sehingga terjadi pertumbuhan secara berlebihan pada berbagai jaringan tubuh, otot dan tulang, khususnya pada kaki, tangan, dan wajah. Umumnya, kondisi ini disebabkan oleh tumor jinak pada kelenjar hipofisis (pituitary). Peningkatan produksi growth hormone juga bisa disebabkan oleh tumor pada organ tubuh lainnya seperti paru-paru atau pankreas, tapi sangat jarang.

Baca Juga : Penyakit Ginekomastia

Pengobatan yang tepat diperlukan untuk menghindari penyakit serius. Obat dapat mengurangi efek dari hormon pertumbuhan. Jika diperlukan, operasi dan radiasi dapat digunakan untuk menghilangkan sel-sel tumor.

Umumnya, akromegali terdiagnosa pada pasien dewasa berusia 40 hingga 45 tahun. Kondisi ini termasuk jarang terjadi dan menampilkan gejala yang minim. Kebanyakan kasus penderita mengetahui dirinya terserang akromegali setelah bertahun-tahun. Akromegali dapat mengakibatkan komplikasi yang membahayakan nyawa jika tidak segera diobati.

Tanda dan Gejala Akromegali

Akromegali tidak secara langsung memperlihatkan gejala yang signifikan. Gejala yang terlihat akan berbeda dari setiap penderita. Berikut ini gejala umum akromegalidiantaranya yaitu:

  • Kaki dan tangan membesar.
  • Struktur wajah berubah.
  • Ukuran lidah, hidung, dan bibir membesar.
  • Struktur gigi melebar.
  • Kulit berminyak dan kasar.
  • Pertumbuhan kulit secara abnormal.
  • Keringat berlebih, hingga bau badan.
  • Pusing.
  • Lemas.
  • Otot melemah.
  • Nyeri sendi dan kemampuan gerak menjadi terbatas.
  • Fungsi penglihatan menurun.
  • Suara serak dan mendalam (pelebaran pita suara dan sinus).
  • Mendengkur kencang saat tidur.
  • Rongga membesar (barrel chest).
  • Gangguan siklus menstruasi pada wanita.
  • Kesulitan ereksi pada pria.

Baca Juga : Kanker Tulang

Kondisi tersebut juga dapat mengakibatkan organ penting tubuh seperti hati, ginjal, jantung, dan limpa membesar, dan berpotensi membahayakan nyawa. Jika muncul gejala-gejala tersebut maka segera temui dokter atau kunjungi rumah sakit terdekat agar mendapatkan penanganan.

Penyebab Akromegali

Penyebab akromegali yaitu tingginya produksi hormon pertumbuhan (GH) yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis. 95% kasus akromegali memperlihatkan adanya tumor pada kelenjar hipofisis, yang merupakan penyebab meningkatnya produksi GH. Dalam kasus yang jarang terjadi, keturunan bisa menjadi faktor pemicu terkena penyakit akromegali.

Kelenjar hipofisis berada di bagian bawah otak dan berfungsi memproduksi berbagai hormon penting bagi tubuh, salah satunya hormon pertumbuhan (GH). GH memicu organ hati dalam memproduksi insulin-like growth factor I (IGF-I) sebagai stimulan pertumbuhan tulang dan jaringan tubuh. Kadar GH berlebih akan mempengaruhi produksi IGF-I, memicu pertumbuhan abnormal pada jaringan tubuh, otot, dan tulang.

Baca Juga : Kanker Otak

Bagi penderita tumor hipofisis, akromegali bisa disertai gejala lain, yaitu jika tumor menekan saraf dan jaringan di sekitar hipofisis, atau jika tumor juga menyebabkan produksi hormon tiroid berlebih.

Pengobatan Akromegali

Pengobatan akromegali difokuskan untuk mengurangi tingkat keparahan gejala, mengatur kadar hormon yang berlebih, dan mengembalikan fungsi kelenjar hipofisis. Berikut ini tiga metode pengobatan umum yang disarankan untuk akromegali diantaranya yaitu:

Operasi. Operasi transfenoidal biasa direkomendasikan untuk mengangkat tumor dari hipofisis yang menekan saraf dan memicu produksi GH berlebih. Operasi ini dilakukan melalui hidung atau bibir atas, menggunakan endoskopi dan alat operasi lainnya untuk mengangkat tumor yang ada. Tindakan ini dilakukan dalam kondisi anestesi lokal.

Baca Juga : Tumor Otak

Obat-obatan. Berikut ini obat-obatan yang dapat digunakan untuk pengobatan pendukung setelah operasi, atau jika operasi tidak bisa dilakukan (misalnya dalam kasus tumor berukuran besar):

  • Dopamine agonist. Contohnya seperti bromocriptine dan cabergoline berfungsi untuk menekan produksi hormon pertumbuhan. Obat tersebut dikonsumsi sekali atau dua kali seminggu dalam bentuk pil.
  • Analog somatostatin. Contohnya seperti lanreotide dan octreotide digunakan untuk mengontrol produksi dan aliran hormon pertumbuhan, serta mengecilkan ukuran tumor adenoma. Obat ini diberikan dalam bentuk suntikan di rumah sakit, dengan dosis awal 3 kali sehari untuk melihat efektivitasnya, dan dilanjutkan sebulan sekali untuk jangka waktu yang ditentukan. Suntikan ini umumnya diberikan di bawah kulit (subkutan) dan di otot pantat (otot gluteus).
  • Antagonis hormon pertumbuhan. Contoh obat ini seperti pegvisomant. Obat ini berfungsi untuk memblokir efek hormon pertumbuhan pada jaringan tubuh, menekan gejala, dan mengatur kadar IGF-I pada hati. Obat antagonis hormon pertumbuhan biasanya diberikan jika penderita tidak merespons pengobatan lainnya, melalui suntikan secara subkutan sehari sekali di rumah sakit. Obat ini tidak dapat mengecilkan ukuran tumor atau mengurangi kadar hormon dalam tubuh.

Baca Juga : Perkembangan Bayi Usia 5

Radioterapi. Umumnya, radioterapi direkomendasikan jika penderita tidak merespon secara baik terhadap tindakan operasi atau obat-obatan. Terapi ini berfungsi untuk menghancurkan sel tumor yang tidak dapat dijangkau sebelumnya dan menekan kadar hormon pertumbuhan secara perlahan. Radioterapi dapat dilakukan dengan tiga cara diantaranya yaitu:

  • Terapi radiasi konvesional. Tumor ditargetkan menggunakan pancaran eksternal (EBT) yang diberikan dalam dosis kecil dengan jeda selama 4-6 minggu. Hal ini dilakukan untuk menghindari kerusakan pada kelenjar hipofisis dan jaringan otak, serta memberikan waktu untuk penyembuhan jaringan yang terkena radiasi. Umumnya, hasil terapi ini dirasakan setelah bertahun-tahun.
  • Terapi pisau gamma (gamma knife). Tumor ditargetkan secara langsung menggunakan pancaran radiasi yang kuat, tanpa mengenai jaringan otak di sekitarnya. Pasien akan diminta untuk menggunakan penutup kepala khusus agar meminimalisir pergerakan kepala. Terapi ini hanya dilakukan sekali, dengan hasil yang dapat dirasakan setelah 3-5 tahun. Terapi pisau gamma juga berisiko memimbulkan efek samping yang lebih kecil dibanding terapi radiasi konvensional.
  • Terapi radiasi proton.Terapi ini memancarkan radiasi kuat pada tumor dengan efek minim pada jaringan otak. Terapi ini diberikan secara berkala, dengan intensitas yang lebih singkat dibandingkan terapi radiasi konvensional.

Baca Juga : Angin Duduk (Angina)

Komplikasi Akromegali

Akromegali yang tidak diobati bisa menimbulkan komplikasi yang bisa membahayakan nyawa, penyakit komplikasi akibat akromegali diantaranya seperti:

  • Hipertensi.
  • Penyakit jantung, terutama pembesaran jantung (kardiomiopati).
  • Diabetes melitus.
  • Kehilangan fungsi penglihatan.
  • Gondok.
  • Pertumbuhan polip atau prakanker di garis kolon.
  • Pertumbuhan tumor jinak di rahim.
  • Penekanan pada saraf tulang belakang.
  • Sindrom lorong kapal (carpal tunnel syndrome).
  • Sleep apnea, yang bisa menutup saluran pernapasan.
  • Osteoarthritis, yaitu penurunan kemampuan pergerakan pada sendi.

Demikian pembahasan tentantang penyakit akromegali semoga bermanfaat dan jangan lupa ikuti postingan kami lainnya.